Menjadi seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bukan sekadar menjalankan tugas dinas, melainkan membangun jembatan kepercayaan. Perjalanan saya di Desa Sugihmas dimulai dengan sebuah langkah sederhana namun penuh makna: Anjangsana.
Menyambangi Dusun Ngulaan: Bertemu Bapak Sanggup
Titik awal pengabdian saya berpusat di Dusun Ngulaan. Di sana, saya disambut oleh sosok yang luar biasa, Bapak Sanggup. Beliau bukan hanya Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur, tetapi juga mengemban amanah sebagai Kepala Dusun.
Pertemuan perdana kami berlangsung di kediaman beliau. Suasananya masih sangat klasik dan kental dengan nuansa kekeluargaan. Saya teringat bagaimana pengumuman pertemuan kelompok tani masih disuarakan melalui pengeras suara masjid—sebuah tradisi komunikasi warga yang efektif namun memperlihatkan tantangan besar di depan mata.
Tantangan Mindset Kemandirian Petani
Jujur saja, pada masa itu, konsep kemandirian masih menjadi barang mewah. Pola pikir yang terbentuk saat itu adalah: pertemuan ada karena ada penyuluh. Petani berkumpul bukan karena inisiatif internal kelompok, melainkan karena kehadiran figur luar.
Namun, di balik tantangan tersebut, saya menemukan sebuah permata terpendam. Masyarakat Sugihmas memiliki karakter yang luar biasa:
Ramah dan Terbuka: Kehadiran saya disambut dengan tangan terbuka.
Semangat Belajar: Ada binar keingintahuan di mata para petani saat berdiskusi.
Gotong Royong: Kehadiran mereka di rumah Bapak Sanggup menunjukkan kohesi sosial yang kuat.
Kunci Perubahan: Kemauan untuk Belajar
Karakter ramah dan keinginan untuk maju inilah yang saya pegang erat sebagai modal utama. Sebagai PPL, saya sadar bahwa ilmu teknis pertanian sehebat apa pun tidak akan mempan jika tidak dibarengi dengan pendekatan hati.
Pertemuan rutin di Poktan Ngudi Makmur bukan sekadar tempat berbagi teori pemupukan atau pengendalian hama, melainkan momentum untuk perlahan menggeser paradigma. Dari yang awalnya "menunggu disuluh", menjadi "aktif mencari solusi".
Catatan Penutup: Perjalanan di Desa Sugihmas mengajarkan saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang tamu sederhana, segelas teh hangat, dan kepercayaan yang tumbuh di antara penyuluh dan petani.
