Jejak Awal Pengabdian: Menjadi Penyuluh di Lereng Gunung Kelir (2008)
Tahun 2008 menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan karier saya. Itulah tahun di mana saya pertama kali menginjakkan kaki sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di bawah naungan BPP Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Kala itu, kantor pusat aktivitas saya berada di BPP Kecamatan Grabag, yang terletak di Jl. Kalisalak, Desa Sumurarum. Dari sinilah, petualangan menyusuri pematang sawah dan perkebunan dimulai.
Wilayah Binaan: Desa Banjarsari
Tugas pertama saya adalah mendampingi Desa Banjarsari. Saya masih ingat betul keramahan warga di sana, di bawah kepemimpinan Kepala Desa saat itu, Bapak Muhammad Asfuri. Desa ini memiliki letak geografis yang unik karena berada di lereng Gunung Kelir bagian selatan dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Semarang.
Lanskap Desa Banjarsari terdiri dari lima dusun utama yang masing-masing memiliki karakteristik masyarakat tani yang luar biasa:
Dusun Banjaran
Dusun Kepatran
Dusun Krandegan
Dusun Butuh
Dusun Salakan
Potensi Emas Hitam dan Air Nira
Banjarsari bukan sekadar desa biasa. Wilayah ini adalah sentra penghasil kopi. Budidaya tanaman kopi menjadi urat nadi ekonomi warga di sana. Suasana sejuk lereng gunung menciptakan kualitas kopi yang khas, yang menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai penyuluh untuk ikut mengembangkan potensinya.
Selain kopi, satu hal yang paling berkesan adalah aktivitas para penderes air nira. Pohon-pohon aren tumbuh subur di sini, dan pemanfaatan nira menjadi produk turunan merupakan salah satu kearifan lokal yang sangat kuat di Banjarsari.
Refleksi Awal
Tahun 2008 adalah masa belajar bagi saya. Meskipun latar belakang saya adalah dunia IT dan pemrograman, namun berada di tengah-tengah petani Banjarsari mengajarkan saya bahwa teknologi haruslah memiliki sentuhan kemanusiaan. Dari sinilah visi perlahan mulai terbentuk—sebuah keinginan untuk membawa kemajuan digital ke dalam keseharian para petani di lereng gunung.
