Bulan Juli 2008 membawa babak baru dalam perjalanan karier saya sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Setelah sebelumnya bertugas di Desa Banjarsari dengan akses aspal yang mulus, saya menerima amanah baru untuk berpindah wilayah binaan ke Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag.
Kontras "Bumi dan Langit"
Jujur saya rasakan, perbedaan antara Banjarsari dan Sugihmas saat itu ibarat bumi dan langit. Jika di Banjarsari infrastruktur sudah cukup mapan, Sugihmas di tahun 2008 masih menyandang label desa tertinggal. Begitu memasuki batas desa, jalan aspal berganti menjadi jalan makadam (batu) dan lebih banyak jalan tanah yang menantang.
Bahkan secara komunikasi, tantangannya luar biasa. Di era di mana SMS menjadi alat komunikasi utama, sinyal seluler langsung hilang begitu saya memasuki wilayah Sugihmas. Desa ini seolah terisolasi secara digital, namun menyimpan potensi yang besar.
Sambutan Hangat di Dusun Garongan
Didampingi oleh Koordinator BPP Grabag, Bapak AG Supardi, SP., saya membawa surat tugas untuk menemui Kepala Desa Sugihmas saat itu, Bapak Sunaryo. Kami bertemu di Kantor Desa yang terletak di Dusun Garongan.
Meski secara infrastruktur tertinggal, keramahtamahan warganya luar biasa. Kami disambut dengan sangat hangat oleh Bapak Kepala Desa, perangkat desa, serta jajaran BPD. Kehangatan inilah yang menjadi modal awal bagi saya untuk mulai bekerja di wilayah yang secara geografis sangat menantang ini.
Menemukan Potensi Lewat Data Akurat
Sebagai seseorang yang terbiasa dengan data (IT mindset), saya mulai memetakan wilayah ini melalui metode Transek dan mencocokkannya dengan profil desa. Saya menemukan fakta menarik tentang topografi Sugihmas yang sangat ekstrem:
Batas Timur: Ketinggian mencapai 1025 mdpl.
Batas Barat: Ketinggian berada di 475 mdpl.
Dari data transisi ketinggian ini, saya menyadari bahwa Sugihmas adalah raksasa tidur. Potensi utamanya adalah sentra ternak sapi dan hortikultura yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan sentuhan teknologi dan manajemen yang tepat.
Sebuah Tekad: "Grabag Selatan Harus Sejajar!"
Melihat ketertinggalan Sugihmas dibandingkan wilayah Grabag utara yang lebih maju, muncul sebuah semboyan dalam hati saya:
"Melalui Sugihmas, Grabag Selatan harus bisa sama dengan Grabag Utara, kalau perlu harus lebih terkenal!"
Tekad ini bukan sekadar kata-kata, melainkan janji pribadi yang saya tanamkan dalam hati sejak hari pertama bertugas di sana. Saya percaya, ketertinggalan infrastruktur bukanlah penghalang untuk kemajuan ekonomi petani jika kita memiliki strategi yang tepat.
