Tahun 2010 menjadi puncak dari perjuangan saya menanamkan ideologi di Desa Sugihmas. Membangun infrastruktur mungkin sulit, namun membangun mindset (pola pikir) manusia jauh lebih menantang. Di tengah label "desa tertinggal" yang melekat pada Sugihmas saat itu, saya membawa satu semboyan yang terus saya gaungkan hingga ke pelosok dusun: "Mandiri -> Maju -> Berpengaruh".
Semboyan Kemandirian: Memutus Rantai Ketergantungan
Dalam dunia penyuluhan, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kelompok tani yang terbentuk hanya untuk mengejar bantuan pemerintah. Saya ingin memutus rantai itu di Sugihmas. Ada satu kalimat ekstrem yang selalu saya sampaikan di setiap pertemuan kelompok:
"Jika penyuluhnya orang lain, silakan. Tapi karena penyuluhnya saya, jangan satu kali pun bertanya kepada saya tentang bantuan, apalagi memintanya!"
Kalimat ini terdengar keras, namun tujuannya mulia: saya ingin petani berdiri di atas kaki sendiri. Saya ingin mereka menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek penerima bantuan.
Terwujudnya 12 Kelompok Tani Mandiri
Kerja keras membuahkan hasil. Sebanyak 12 Dusun di Sugihmas berhasil membentuk 12 Kelompok Tani yang benar-benar aktif. Kelompok-kelompok ini bukan sekadar papan nama, melainkan unit ekonomi yang memiliki usaha nyata untuk mendukung keuangan anggota.
Pola yang saya terapkan adalah membangun kemandirian ekonomi kelompok terlebih dahulu. Ketika kelompok memiliki kas yang sehat dari usaha kolektif, mereka tidak lagi menggantungkan nasib pada program pemerintah yang datangnya tidak menentu.
"Bukan Penyuluh Pertanian, tapi Penyuluh Kelembagaan"
Ada satu momen menarik saat Poktan Sumber Rejeki menerima kunjungan studi banding dari wilayah lain. Para peserta studi banding terheran-heran melihat kemajuan usaha kelompok yang sudah sangat sistematis. Saat mereka bertanya bagaimana metode budidaya yang saya ajarkan, salah satu anggota Poktan menjawab dengan polos namun mendalam:
"Pak Eko itu bukan penyuluh pertanian, tapi penyuluh kelembagaan."
Istilah "Penyuluh Kelembagaan" ini lahir dari persepsi mereka sendiri. Mereka merasakan bahwa kehadiran saya lebih banyak menyentuh sisi manajemen organisasi, penguatan mental berkelompok, dan konsep kemandirian bisnis, daripada sekadar teknis menanam di lubang tanam.
Hasil Nyata: Ekonomi Kelompok yang Tangguh
Kemandirian ini terbukti mampu meningkatkan taraf hidup. Kelompok-kelompok tani di Sugihmas mulai memiliki pengaruh (berpengaruh) karena mereka punya posisi tawar. Mereka tidak lagi bisa didikte karena mereka punya modal dan unit usaha sendiri. Inilah arti sebenarnya dari Mandiri, Maju, dan Berpengaruh.