Tepat pada 1 Januari 2011, sebuah gebrakan digital lahir dari lereng pegunungan di Kecamatan Grabag. Di saat internet belum menjadi kebutuhan pokok dan website instansi pemerintah daerah pun belum masif, saya mengambil langkah berani dengan meluncurkan website resmi gapoktansugihmas.com.
Langkah ini murni merupakan inisiatif dan perencanaan pribadi saya. Tujuannya satu: Membuka cakrawala dunia bagi petani Sugihmas. Saya ingin membuktikan bahwa label "desa tertinggal" hanyalah status administratif, bukan penghalang untuk bersaing secara global di dunia digital.
Melawan Arus dengan Kejujuran Data
Di tengah skeptisisme saat itu, saya memilih prinsip "Apa Adanya Tanpa Rekayasa". Website tersebut dibangun bukan untuk pencitraan atau kebohongan publik demi mendapatkan bantuan, melainkan sebagai jendela informasi sejujur mungkin mengenai kondisi, potensi, dan kemandirian kelembagaan tani di Sugihmas (Poktan, KWT, hingga Gapoktan).
Hadirnya domain .com profesional ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di tingkat kelompok tani se-Kecamatan Grabag, bahkan mungkin di Kabupaten Magelang pada masa itu.
Kebanggaan dan Semangat Baru
Dampaknya luar biasa. Para petani dan pengurus Gapoktan merasakan kebanggaan yang sangat besar. Memiliki "rumah digital" profesional membuat mereka semakin bersemangat menjaga kemandirian kelompok yang sudah dibangun sejak tahun-tahun sebelumnya.
Gebrakan ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi bisa hadir di mana saja, asalkan ada kemauan untuk mendobrak keterbatasan. Sugihmas tidak lagi sekadar nama desa di peta manual, tapi sudah memiliki koordinat di dunia maya.
Jejak Digital yang Abadi
Hingga saat ini, jejak perjuangan digital tersebut masih bisa kita saksikan melalui arsip internet. Bagi siapapun yang ingin melihat bagaimana wajah awal digitalisasi pertanian di pelosok Magelang tahun 2011, rekam jejaknya masih tersimpan di Wayback Machine: 👉
