Tahun 2014 menjadi saksi lahirnya sebuah lembaga penyuluhan di tingkat desa yang mungkin hingga saat ini sulit dicari tandingannya. Di Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag, kami membangun Posluhdes (Pos Penyuluhan Desa) 'Suluh Tani'.
Bagi saya, Posluhdes bukan sekadar papan nama. Ini adalah lembaga penyuluhan kepanjangan tangan dari BP3K Kecamatan yang dibangun secara mandiri oleh petani. Inilah "daging" dari sebuah perjalanan membangun mindset.
Filosofi Dasar: Mindset Dulu, Budidaya Kemudian
Mungkin pola yang saya gunakan terbalik dengan kebanyakan penyuluh. Penyuluh lain biasanya menitikberatkan pada teknis budidaya. Namun bagi saya, kunci manajemen pembangunan pertanian desa adalah Kelembagaan dan Perubahan Perilaku (Mindset).
Jika kemandirian terbentuk, maka permasalahan akan berangkat dari diri sendiri untuk mencari solusi. Sebaliknya, jika teknis dan bantuan sarana duluan yang masuk, maka kelompok hanya akan eksis saat ada bantuan. Ketika uang habis, kelompok otomatis lenyap.
Prinsip Ekstrim yang Saya Tanamkan: "Jika penyuluhnya orang lain silakan, tapi kalau (karena) penyuluhnya saya, jangan 1 kali pun bertanya saya tentang bantuan apalagi meminta!"
Saya menjamin 100% kepada kelompok: Sodorkan kemampuanmu, maka bantuan akan datang sendiri. Dan jaminannya adalah saya. Dengan pola terbalik ini, petani tidak lagi bergantung pada bantuan, melainkan pada kekuatan kelompoknya sendiri.
Struktur dan Kekuatan Penyuluh Swadaya
Posluhdes Suluh Tani diawaki oleh para Penyuluh Swadaya. Mereka adalah kader-kader pertanian yang diambil dari masing-masing Kelompok Tani (Poktan), tokoh masyarakat, dan warga yang peduli pada pembangunan Sugihmas.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa saat itu, Bapak Srianto—seorang petani teladan yang didukung mutlak oleh kelompok tani—Posluhdes memiliki eksistensi yang sangat kuat. Berbeda dengan Posluhdes lain yang kegiatannya seringkali hanya insidentil, Suluh Tani Sugihmas benar-benar hidup setiap hari.
Rutinitas Kantor dan Piket Mandiri
Setiap hari, ada petugas yang berkantor (piket). Mereka adalah penyuluh swadaya yang telah memiliki jadwal tugas rutin. Setiap hari 2-3 orang bergiliran masuk kantor dari jam 07.00 hingga 10.00 pagi sebelum mereka kembali ke ladang/ternak.
Apa yang mereka lakukan saat piket?
Update Data Harga: Jam 7 pagi tepat, mereka menuliskan data dinding harga terbaru sayuran hortikultura (terutama cabai) karena Sugihmas sudah menjadi sentra produksi.
Penyusunan RDKK Mandiri: Mereka menyusun data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) secara mandiri untuk poktan masing-masing, sehingga data desa terbangun secara valid dan akurat.
Penyuluhan Silang: Terjadi pertukaran ilmu di mana penyuluh swadaya dari poktan A memberikan materi di poktan B. Semua direncanakan dan dirapatkan bersama saya di Posluhdes.
Menerobos Gap Digital dengan Aplikasi Visual Basic & VBA
Tantangan SDM di Sugihmas saat itu sangat krusial; jauh dari perkembangan IT, bahkan sinyal pun sering tidak ada. Di era transformasi IT ini, banyak orang kesulitan menggunakan Excel atau Word.
Saya menciptakan solusi Aplikasi Offline berbasis Visual Basic dan VBA Excel. Strateginya:
Petani tidak perlu belajar rumus Excel yang rumit. Mereka cukup berlatih menyalakan dan mematikan komputer.
Saat aplikasi dibuka, mereka bekerja dipandu oleh notifikasi interaktif.
Rasanya seperti sedang bermain. Mereka merasa nyaman, senang, dan mampu menghasilkan data akurat tanpa harus menjadi ahli IT terlebih dahulu.
Media Informasi: Buletin Suluh Tani
Kemandirian kami juga dibuktikan dengan terbitnya Buletin Suluh Tani setiap hari Senin. Buletin ini berisi:
Berita perkembangan pertanian Sugihmas.
Teknik budidaya sebagai jawaban atas permasalahan yang diajukan poktan secara bergiliran.
Sarana komunikasi rutin antara pengurus Posluhdes dengan seluruh anggota tani.
Keikhlasan Tanpa Bayaran
Satu hal yang paling mengharukan dan patut diacungi jempol: para penyuluh swadaya ini berkantor tanpa dibayar serupiah pun. Di saat di tempat lain petani mungkin harus diberi uang transpor untuk sekadar hadir pertemuan, di Sugihmas mereka justru semangat dan gembira.
Mereka membangun nilai kemandirian, memakai seragam kelompok dengan bangga, dan saling berlomba menunjukkan kekompakan antar kelompok. Inilah Posluhdes yang real mandiri dari semangat, bukan sekadar formalitas. Sampai sekarang, saya belum menemukan padanan yang sekuat Posluhdes Suluh Tani Desa Sugihmas.
