Tahun 2015 menjadi masa di mana gaung inovasi IT dari BP3K Kecamatan Grabag mencapai titik penderasan yang luar biasa. Keberhasilan meraih Juara Nasional di tahun sebelumnya bukan menjadi titik henti, melainkan bahan bakar bagi saya untuk semakin progresif dalam mengembangkan berbagai tools aplikasi pendukung pekerjaan penyuluh.
Sebagai pionir implementasi teknologi informasi untuk pertanian, BP3K Grabag telah membuktikan bahwa digitalisasi adalah kunci optimalisasi peran penyuluh di lapangan.
Menjadi Narasumber dan Mentor Digital
Seiring dengan pengakuan nasional tersebut, kepercayaan dari berbagai instansi pun mengalir deras. Sepanjang tahun 2015, saya mendapatkan banyak amanah untuk membagikan pengalaman dan strategi melalui berbagai forum, di antaranya:
Seminar & Workshop Tingkat Provinsi: Memaparkan konsep digitalisasi data pertanian di hadapan para pengambil kebijakan.
Workshop Kabupaten & Eks-Karesidenan: Melakukan pendampingan teknis bagi rekan-rekan penyuluh agar mampu mengoptimalkan fungsi BP3K melalui teknologi informasi.
Konsultasi Mandiri: Melayani institusi yang secara mandiri ingin mengadopsi sistem informasi yang telah kami kembangkan di Grabag.
Fokus utama saya dalam setiap pertemuan tersebut adalah Optimalisasi BP3K. Saya selalu menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, namun di tangan penyuluh yang kreatif, alat tersebut bisa meningkatkan efisiensi kerja dan akurasi data secara signifikan.
Pengembangan Tools Aplikasi Berkelanjutan
Di sela kesibukan sebagai narasumber, saya terus konsisten mengasah kemampuan programming saya. Saya percaya bahwa setiap kendala administratif yang dihadapi penyuluh di lapangan pasti memiliki solusi digitalnya. Inilah masa di mana berbagai tools aplikasi baru lahir—aplikasi yang dirancang khusus untuk mempermudah pelaporan, pemetaan potensi wilayah, hingga manajemen kelompok tani.
Semua ini saya lakukan dengan satu harapan besar: Pertanian Indonesia harus semakin maju. Kita tidak boleh lagi bekerja hanya dengan mengandalkan ingatan atau catatan kertas yang mudah hilang, melainkan harus berbasis data yang terintegrasi.
Harapan untuk Masa Depan
Penderasan inovasi ini adalah langkah awal dari visi besar saya. Melihat antusiasme rekan-rekan penyuluh dari berbagai penjuru Indonesia yang datang melakukan studi banding maupun mengundang saya sebagai narasumber, saya semakin yakin bahwa Digitalisasi Pertanian bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan.