Skip to main content

Audit Kejujuran: Kisah Juara 2 Penyuluh Teladan Provinsi Jawa Tengah Tanpa Rekayasa (2017)

 


Tahun 2017 menjadi tahun yang menguji integritas dan kapasitas saya sebagai seorang penyuluh. Setelah berkali-kali menolak mengikuti lomba penyuluh teladan karena merasa tidak cocok dengan orientasi penilaian yang cenderung administratif, akhirnya saya menerima tantangan tersebut.

Bagi saya, kemenangan sejati bukan terletak pada berkas yang tebal, melainkan pada sejauh mana mindset dan karakter petani telah terbangun.

Menolak Prosedur, Memilih Realita

Ada pola terbalik yang saya jalankan dalam mengikuti lomba ini. Umumnya, peserta lomba akan menyiapkan berkas yang dijilid sangat tebal dan rapi, disertai narasi yang dipercantik untuk memikat juri. Namun, saya mengambil spekulasi berbeda:

  • Berkas Tanpa Jilid: Saya hanya mengirimkan lembaran-lembaran data lapangan apa adanya yang dimasukkan ke dalam file box tanpa dijilid rapi. Saya ingin data tersebut bicara jujur tentang apa yang terjadi di lapangan.

  • Tanpa Kondisioning Lapangan: Atasan di Kabupaten telah menginstruksikan saya untuk "mengondisikan" lapangan agar terlihat sempurna saat tim penilai datang. Namun, saya memilih prinsip “Nggih, nggih ning ora kepanggih” (Ya, tapi tidak saya lakukan). Saya ingin melihat realitas asli tanpa rekayasa.

Tes Kapasitas di Desa Sugihmas

Hari penilaian tiba. Tim penilai dari Kementerian datang untuk mencocokkan berkas dengan kondisi lapangan. Ini adalah challenge bagi saya untuk mengetahui seberapa besar peran saya diterima oleh wilayah binaan.

Saya tetap berada di kantor BP3K Grabag dan membiarkan tim penilai (salah satunya Bapak Joko) berangkat sendiri ke Desa Sugihmas. Saya bahkan baru mengabari Bapak Srianto (Kepala Desa) sesaat sebelum penilai sampai, tanpa memberitahu bahwa ini adalah penilaian lomba penyuluh teladan. Saya hanya mengatakan ada tamu yang ingin melihat kinerja saya.

Kesaksian dari Posluhdes

Di Desa Sugihmas, tim penilai langsung menuju Kantor Posluhdes Suluh Tani. Di sana, mereka melakukan wawancara mendalam dengan Kepala Desa, perangkat desa, dan para penyuluh swadaya yang pagi itu kebetulan memang sedang melaksanakan jadwal piket rutin.

Wawancara tersebut terjadi secara alami. Tim penilai melihat langsung rutinitas harian Posluhdes, melihat keaktifan petani, dan merasakan kemandirian yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Tekad saya bulat: jika saya kalah, tidak masalah. Tapi jika saya menang, saya tahu itu adalah kapasitas riil saya di mata petani.

Apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah

Hasilnya mencengangkan. Meskipun tanpa manipulasi data dan tanpa persiapan seremonial, saya berhasil meraih Juara 2 Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Bagi saya, urutan juara bukanlah yang utama. Kebanggaan terbesar adalah saat menerima piagam dan uang pembinaan dari Bapak Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah saat itu) atas hasil kerja yang 100% apa adanya. Kemenangan ini membuktikan bahwa karakter kejujuran yang saya tanamkan pada petani Sugihmas telah berbalik menjadi pengakuan bagi saya.

Ucapan Terima Kasih

Pencapaian ini tentu tidak lepas dari bimbingan para mentor dan senior yang luar biasa. Terima kasih tulus saya sampaikan kepada:

  • Bapak Ir. Nurhadi Abas (Koordinator BPP Grabag)

  • Bapak Tri Wardoyo dan Bapak Petrus Muhardi (Atasan dan Senior saya)

Kejujuran dalam proses ini menjadi modal berharga bagi petani Sugihmas untuk terus membangun desa di masa mendatang

Popular Posts

LCS Tool Penyuluh: Otomatisasi Laporan Diseminasi Digital PPL

Tahun 2026 membawa babak baru bagi sejarah Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, sektor pertanian menjadi fokus utama, dan kami para penyuluh resmi beralih status menjadi ASN Pusat di bawah naungan langsung Kementerian Pertanian. Khususnya perubahan ini adalah tugas yang semakin padat dan dinamis. Salah satu tugas harian kami adalah melakukan penderasan informasi pertanian melalui media sosial (LCS: Like, Comment, Share ) guna memasyarakatkan pergerakan pertanian nasional. Masalah: Diseminasi Online Pertanian vs Administrasi Pelaporan Manual Secara teknis, setiap hari penyuluh harus membuka platform diseminasi, melakukan dukungan pada konten konten tertentu (BPPSDMP, Kementan, dll), mengambil bukti screenshot , dan menyusunnya ke dalam tabel laporan bulanan. Jika manual dikerjakan: Membuka banyak konten satu demi satu. Melakukan screenshot berulang kali (Like, Komen, Share). Mengelola puluhan gambar di galeri yang tercampur aduk. Menyusunnya ke d...

Sinergi Agronomi dan Teknologi: Membangun Masa Depan Pertanian di AMTS Digital Hub

  Halo sobat tani dan rekan-rekan penggiat teknologi! Selamat datang di postingan perdana AMTS Digital Hub . Melalui blog ini, saya ingin berbagi sebuah visi tentang bagaimana dunia pertanian yang konvensional bisa bersinergi dengan kemajuan Teknologi Informasi (IT) untuk menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan sejahtera. Sebagai seorang penyuluh pertanian sekaligus praktisi di bidang IT, saya sering melihat adanya "jarak" antara solusi teknis di lapangan dengan kemudahan akses data. Melalui CV Agro Mitra Tani Sejahtera (AMTS) , kami ingin menjembatani jarak tersebut. Apa yang akan Anda temukan di blog ini? Edukasi & Penyuluhan: Panduan praktis budidaya tanaman dan penanganan hama berdasarkan pengalaman lapangan. Agri-Tech Inovasi: Demo dan pemanfaatan aplikasi IT untuk membantu petani dalam manajemen lahan maupun bisnis tani. Update Sarana Produksi: Informasi produk unggulan dari Toko Pertanian AMTS untuk mendukung hasil panen maksimal. Pertanian bukan lagi sekad...

Memulai Langkah di Sugihmas: Anjangsana dan Harapan Baru di Poktan Ngudi Makmur

  Menjadi seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bukan sekadar menjalankan tugas dinas, melainkan membangun jembatan kepercayaan. Perjalanan saya di Desa Sugihmas dimulai dengan sebuah langkah sederhana namun penuh makna: Anjangsana. Menyambangi Dusun Ngulaan: Bertemu Bapak Sanggup Titik awal pengabdian saya berpusat di Dusun Ngulaan. Di sana, saya disambut oleh sosok yang luar biasa, Bapak Sanggup . Beliau bukan hanya Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur , tetapi juga mengemban amanah sebagai Kepala Dusun. Pertemuan perdana kami berlangsung di kediaman beliau. Suasananya masih sangat klasik dan kental dengan nuansa kekeluargaan. Saya teringat bagaimana pengumuman pertemuan kelompok tani masih disuarakan melalui pengeras suara masjid—sebuah tradisi komunikasi warga yang efektif namun memperlihatkan tantangan besar di depan mata. Tantangan Mindset Kemandirian Petani Jujur saja, pada masa itu, konsep kemandirian masih menjadi barang mewah. Pola pikir yang terbentuk saat itu...