Siapa sangka, Desa Sugihmas di Kecamatan Grabag, Magelang, yang dulunya dianggap desa paling tertinggal, pada tahun 2018 dipercaya mewakili Indonesia dalam proyek bergengsi tingkat Asia Tenggara. Melalui ASEAN PHL Project (Reduction of Postharvest Losses), Sugihmas menjadi laboratorium hidup bagi implementasi teknologi pascapanen cabai tercanggih di masanya.
Masalah Nasional: Ancaman Pathek dan Losses Pascapanen
Penyakit antraknosa atau pathek telah lama menjadi momok bagi petani cabai. Kehilangan hasil (losses) pascapanen cabai secara nasional diperkirakan mencapai 20-40%. Hal ini memicu fluktuasi harga yang ekstrem dan merugikan petani.
Melihat potensi besar namun berisiko tinggi ini, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) bekerja sama dengan mitra strategis memilih Gapoktan Maju Mandiri Desa Sugihmas sebagai lokasi uji coba teknologi penurunan losses sebagai bagian dari kegiatan ASEAN PHL-R.
Inovasi Teknologi Ozon: Pertama di Indonesia
Sebagai penyuluh di Desa Sugihmas, saya mengawal langsung transformasi teknologi ini. Salah satu terobosan utama yang diterapkan adalah Teknologi Ozon (Ozonisasi).
Pencucian dengan Ozon: Cabai dicuci menggunakan mesin ozon untuk meluruhkan residu pestisida dan meminimalkan mikroorganisme perusak (jamur Colletotrichum capsici).
Manajemen Rantai Pasok: Kami merombak total kebiasaan lama. Pengangkutan yang dulunya menggunakan karung plastik bekas pupuk, diganti dengan krat, pengemasan menggunakan kardus berperforasi, dan transportasi menggunakan mobil berpendingin hingga ke pasar induk Jakarta dan Tangerang.
Hasil Terbaik: Harga Naik, Kualitas Ekspor
Hasilnya sangat menjanjikan dan diakui secara luas, bahkan masuk dalam liputan khusus Majalah Trubus. Mutu cabai yang seragam, segar, dan tahan lama membuat harga jual cabai petani Sugihmas lebih tinggi Rp2.000—Rp3.000 per kilogram dibanding harga pasar.
"Dengan penanganan yang benar, baik pekebun maupun pedagang sama-sama diuntungkan. Ini adalah sinergi antara teknologi dan kemandirian petani," ujar saya saat itu sebagaimana dikutip oleh media.
Sugihmas: Kebanggaan Indonesia di Mata ASEAN
Yang membuat prestasi ini luar biasa adalah posisi Sugihmas sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam proyek ini. Hasil dari Sugihmas inilah yang kemudian didiseminasikan dan menjadi referensi bagi negara-negara ASEAN lainnya dalam menangani pascapanen hasil pertanian.
Dari desa tanpa sinyal, Sugihmas kini menjadi desa yang "berbicara" di tingkat internasional. Ini bukan sekadar keberhasilan teknologi, tapi keberhasilan perubahan mindset petani yang telah kami rintis sejak bertahun-tahun sebelumnya.
https://trubus.id/kiat-jaga-kualitas-cabai/

